Kehamilan & persalinan

Waspada Pre Eklampsia Pada Kehamilan

PinterestLinkedInTumblr

Bismillah….

Bunda cabids shalihah yang saat ini sedang menjalani kehamilan, sebaiknya perlu waspada terhadap kondisi yang disebut Pre Eklampsia.

WASPADA bukan berarti PANIK. Namun, lebih aware terhadap kondisi tubuh Bunda dan perubahan yang dirasakan, serta rutin melakukan pemeriksaan untuk memonitor perkembangan kondisi kehamilan Bunda.

Pre eklampsia dapat terjadi pada ibu hamil sejak pertengahan kehamilan (sekitar uk 20 minggu) atau segera setelah melahirkan bayi. Insidensi kasus pre eklampsia ringan terjadi hingga 6% pada kehamilan. Adapun pre eklampsia berat, terjadi 1-2% dari seluruh kehamilan.

Tanda dan Gejala Pre Eklampsia

2tanda kunci pre eklampsia adalah tekanan darah tinggi (>140/90 mmHg) dan adanya protein di dalam urin (proteinuria). Selain itu, terdapat beberapa gejala lain yang menyertai, seperti:

  • bengkak pada kaki, pergelangan kaki, wajah, dan tangan
  • sakit kepala berat
  • gangguan penglihatan (penglihatan kabur)
  • nyeri di area bawah tulang rusuk
  • penambahan berat badan secara mendadak
  • penurunan produksi urin
  • mual dan muntah berlebihan

Pada beberapa ibu hamil, tanda-tanda di atas tidak selalu muncul. Sehingga sangat penting dilakukan monitoring tekanan darah dan protein urin selama kehamilan agar pre eklampsia dapat dideteksi sedini mungkin dan diberikan penanganan yang tepat. Ibu hamil sebaiknya rutin cek tekanan darah dan protein urin. Hal ini dapat didiskusikan dengan bidan dan dokter pada saat periksa kehamilan.

Penyebab dan Faktor Risiko Pre Eklampsia

Penyebab pasti terjadinya pre eklampsia hingga saat ini belum diketahui. Beberapa teori menyebutkan adanya gangguan pada perkembangan plasenta dan gangguan aliran darah pada rahim ibu.

Plasenta adalah organ yang menghubungkan aliran darah ibu ke janin. Nutrisi dan oksigen yang diperlukan oleh janin, disalurkan melalui plasenta. Sebaliknya, produk-produk sisa metabolisme bayi dikeluarkan melalui plasenta. Untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi, plasenta memerlukan suplai darah yang banyak dan konstan dari sang ibu.

Pada kasus pre eklampsia, plasenta tidak mendapat suplai darah yang cukup karena gangguan perkembangan plasenta. Hal ini tentu saja mempengaruhi suplai darah dari ibu ke janin. Gangguan pada plasenta menyebabkan terbentuknya substansi/zat yang mempengaruhi pembuluh darah pada ibu, sehingga terjadi peningkatan tekanan darah.

Adanya peningkatan tekanan darah tersebut kemudian berdampak pada organ tubuh ibu yang lainnya, termasuk ginjal. Sebagai akibatnya, ginjal mengalami kegagalan dalam proses penyaringan protein, sehingga protein ikut keluar bersama urin, yang disebut proteinuria.

Ketika tubuh kehilangan protein, termasuk albumin, maka akan terjadi pembengkakan pada tubuh. Kenapa? Karena albumin berfungsi menjaga tekanan onkotik plasma darah. Ketika kadar albumin rendah, maka tekanan onkotik plasma berkurang, sehingga terjadi ketidakseimbangan distribusi cairan tubuh dan berakibat penumpukan cairan.

Adapun faktor risiko mengalami pre eklampsi diantaranya:

  • menderita penyakit diabetes, hipertensi, atau penyakit ginjal sejak sebelum hamil
  • riwayat pre eklampsia pada kehamilan sebelumnya (berisiko mengalami pre eklampsia kembali pada kehamilan berikutnya sebesar 16%)
  • terdapat riwayat keluarga dengan pre eklampsia
  • kehamilan pertama
  • usia >40 tahun
  • hamil kembar
  • jarak kehamilan sekarang dengan kehamilan sebelumnya 10 tahun atau lebih
  • memiliki IMT (Indeks Massa Tubuh) > 35

Penanganan Pre Eklampsia

Saat ibu hamil didiagnosa pre eklampsia, diperlukan monitoring secara ketat. Pemberian obat-obatan lebih berfokus untuk menurunkan tekanan darah hingga masa persalinan tiba. Karena satu-satunya cara untuk mengatasi pre eklampsia adalah dengan melahirkan bayi. Sehingga, ibu hamil dengan pre eklampsia perlu dipantau secara ketat dan berkala hingga memungkinkan bagi ibu hamil tersebut untuk melahirkan. Normalnya, persalinan dengan kasus pre eklampsia direkomendasikan dilakukan pada usia kehamilan 37-38 minggu, dan dapat juga lebih awal, tergantung keparahan kasus. Proses persalinan dapat dibantu dengan induksi atau dengan persalinan SC. Setelah persalinan, tetap diperlukan monitoring perkembangan kondisi ibu dan bayinya.

Komplikasi Pre Eklampsia

Sebagian besar kasus pre eklampsia tidak menimbulkan permasalahan serius dan akan segera membaik setelah bayi dilahirkan. Namun ada beberapa resiko komplikasi yang mungkin muncul yang berdampak pada ibu dan bayi.

Bagi Bayi:

  • Bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)
  • Kelahiran prematur
  • Gangguan pernapasan
  • Kematian (pada kasus pre eklampsia berat)

Bagi Ibu:

  • Eklampsia (komplikasi lanjut dari pre eklampsia yang ditandai dengan terjadinya kejang dan kehilangan kesadaran)
  • Stroke
  • Gangguan pada paru-paru, ginjal, dan hati
  • Gangguan pembekuan darah

Kenali perubahan yang terjadi pada tubuh Bunda dan segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan pada saat periksa kehamilan rutin. Jangan abaikan sekecil apapun sinyal-sinyal yang diberikan tubuh kepada Bunda. Semakin awal pre eklampsia terdeteksi, maka akan semakin memperkecil kemungkinan terjadinya komplikasi..

Jangan lupa untuk senantiasa berdoa kepada Allah memohon kesehatan dan keselamatan serta kemudahan selama menjalani proses kehamilan dan persalinan.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat..

Wallahu a’lam

 

Sumber:

https://www.babycentre.co.uk/a257/pre-eclampsia

https://www.nhs.uk/conditions/pre-eclampsia/

https://www.rcog.org.uk/globalassets/documents/patients/patient-information-leaflets/pregnancy/pi-pre-eclampsia.pdf

https://www.webmd.com/baby/guide/preeclampsia-eclampsia#1

a nurse, lifelong learner, concern on medical surgical nursing, interested in women and children's health

Write A Comment

Butuh bantuan? Chat dengan kami